- Back to Home »
- PENYAKIT MALARIA
Posted by : Unknown
Wednesday, March 25, 2015
BAB
I
LATAR
BELAKANG
Penyakit
yang paling sering timbul di kalangan masyarakat adalah penyakit malaria.
Setiap tahun, tujuh puluh juta orang orang dihinggapi penyakit malaria dengan
mortalitas 1 %. Penyakit ini terutama terdapat di Negara – Negara yang iklimnya
panas dan lembab, yang letaknya lebih rendah dari 2.200 m di atas permukaan
laut, tempat ini merupakan tempat ideal untuk berkembang – biaknya nyamuk
Anopheles. Menurut laporan tahun 2006 sekitar 2 juta anak – anak di Afrika
meninggal dalam satu tahun akibat terserang malaria. Namun Amerika, Australia
dan kebanyakan Negara – Negara di sekitar Laut Tengah (Mediterania) dapat
dikatakan telah bebas dari malaria.
Di
Indonesia (terutama Irian Jaya, Timor, dan Flores), malaria merupakan salah satu penyakit endemis
penting. Di tahun 2004 wabah malaria menimbulkan 2.000 kasus dan kematian,
terutama di provinsi Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Aceh Barat. Kemudian di
tahun 2005 wabah ini menyerang Kalimantan Barat dan Maluku dengan menimbulkan
1.100 kasus dan hamper 50 kematian (data Depkes. R.I)
Dengan
pengendalian faktor – faktor risiko infeksi malaria pemberantasan terus menerus
terhadap nyamuk dan tempat perbenihan nya (vector control), penyuluhan, deteksi
dini, dan pengobatan, pemerintah berusaha keras menurunkan insidensi penyakit
ini.
Dengan
meningkatnya hubungan transportasi melalui udara, benih penyakit malaria juga
dapat diimpor melalui nyamuk yang terinfeksi, sehingga disebut “malaria Bandar
udara” (airport malaria). Nyamuk “local” juga dapat ditulari oleh pendatang dari
luar negeri.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Malaria
Malaria
(berasal dari kata italia, yaitu mala = buruk, dan aria = udara) adalah
penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit plasmodium dan ditularkan oleh sejenis
nyamuk yang disebut Anopheles.
B. Jenis Malaria dan Gejalanya
Bagi
manusia malaria disebabkan oleh empat species protozoa keturunan plasmodium
yang menimbulkan tiga jenis penyakit malaria, yaitu :
1.
Malaria Tropika
Plasmodium falciparum
adalah penyebab jenis malaria yang paling ganas, dan berbahaya dengan
mortalitas terbesar. Bila tidak diobati penyakit ini dapat menyebabkan kematian
hanya dalam beberapa hari akibat adanya relatif banyak eritrosit (sampai 50%)
rusak yang menyumbat kapiler otak. Terutama pada anak – anak timbul koma dan
kematian hanya dalam waktu beberapa jam.
Gejalanya
adalah berkurangnya kesadaran, dan serangan demam yang tidak menentu,
adakalanya terus menerus (suhu rectal di atas 48o C), dapat pula
berkala tiga hari sekali. Tidak menimbulkan residif ( kambuh) seperti jenis
malaria lainnya.
Seringkali
bercirikan pembesaran hati dengan terdapatnya penyakit kuning (icterus) dan
urin yang berwarna coklat tua/ hitam hemolisa (blackwater fever). Gejala
lainnya adalah demam tinggi yang timbul mendadak, hemoglobinuria,
hiperbilirubinaemia, muntah, gagal ginjal akut.
Malaria
otak merupakan komplikasi malaria tropika yang gawat sekali dengan cirri
cepatnya hilang kesadaran, timbulnya kejang – kejang, koma, dan kematian. Sebagian
orang memiliki kecenderungan genetik untuk mendapatkan malaria otak setelah
infeksi oleh P.Falciparum
2.
Malaria Tersiana
Disebabkan
oleh plasmodium vivax atau ovale.
Cirri – cirinya demam berkala tiga hari sekali dengan puncak setelah setiap 48
jam. Gejala lainnya berupa nyeri kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa,
dan malaise umum. Tidak bersifat mematikan, meskipun tanpa pengobatan. Sering
kali kambuh kembali berhubung adanya bentuk EE.Sekunder.
3.
Malaria Kwartana
Pada
penyakit ini plasmodium malariae mengakibatkan demam berkala empat hari sekali,
dengan puncak demam 72 jam. Gejalanya sama dengan tertian. Residif juga sering
terjadi karena bentuk EE.Sekunder.
C. Masa Inkubasi dan Gejalanya
Masa
inkubasi P.Falciparum adalah 7-12 hari, P ovale/vivax 0-4 hari, dan P.malariae
4-6 minggu. Periode prodromal 3-5
hari dengan tanda – tanda penyakit atipis, seperti nyeri kepala, dan otot,
mual, anoreksia, rasa letih dan sakit. Kemudian timbul serangan demam yang
khas, seperti menggigil dan merasa sangat dingin, disusul oleh perasaan panas
dengan demam tinggi, yang disertai keringat berlimpah. Gejala penting lainnya
adalah membesarnya limpa dan anemia yang diakibatkan oleh hemolisa semua sel
(sehat dan terinfeksi) yang menyebabkan urin berwarna hitam (blackwater fever),
juga terdapat defisien folat dan gangguan pembentukan sel darah merah
(dyserythropoiesis).
Serangan
panas – dingin terdiri atas 3 fase, yaitu :
1.
Fase dingin
Berlangsung
dari 30 menit sampai 1 jam karena timbulnya penyempitan pembuluh
(vasokontriks). Penderita menggigil karena merasa sangat dingin dan suhu badan
meningkat dengan cepat sampai 41o C.
2.
Fase panas
Segera
menyusul fase dingin pada saat mana tubuh terasa sangat panas selama kira –
kira 2-6 jam. Pada fase ini penderita kadang – kadang mengigau (delirium).
Kemudian fase ini disusul oleh fase berkeringat.
3.
Fase berkeringat
Penderita
merasa sangat letih dan ingin tidur.
D. Siklus Hidup Parasit
Pada
garis besarnya semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup yang sama, yaitu sebagian
di dalam tubuh manusia (siklus aseksual) dan sebagian di tubuh Anopheles
(siklus seksual).
Di
dalam tubuh manusia plasmodium pertama – tama berkembang di dalam sel – sel
hati (hepatosit), kemudian di sel – sel darah merah (eritrosit). Di samping ini
plasmodium vivax dan plasmodium ovale juga berkembang menjadi hipnozoit di
dalam sel hati.
1. Siklus
aseksual
Dapat diperoleh dalam dua bagian, yaitu :
a. Siklus
hati
Penularan
terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit, menyengat manusia dan
dengan ludahnya “menyuntik” sporozoit ke dalam peredaran darah yang untuk
selanjutnya bermukim di sel parenchyma dari hati(bentuk preeritrositer).
Nyamuk
jantan tidak menyengat karena hanya hidup dari tubuh – tumbuhan. Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan kuat
(proses schizogoni), dengan menghasilkan schizont. Enam – Sembilan hari kemudiann , schizont masak dan
melepaskan diri berupa beribu – ribu merozoit. Fase pertama ini (di dalam hati)
disebut bentuk EE-primer (ekso – erit – rositer = diluar eritrosit)
b. Siklus
darah (siklus eritrosit)
Dari
hati sebagin mezoit memasuki sel darah merah dan berkembang di sini menjadi
trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain limpa atau
berdiam di hati dan disebut bentuk EE.Sekunder.
Di
dalam eritrosit terjadi pembelahan aseksual pula (schizogonni). Dalam waktu 48
– 72 jam sel – sel darah pecah dan merozoit yang dilepaskan dapat memasuki
eritrosit lain dan kemudian siklus dimulai kembali. Setiap saat sel darah
merrah pecah, penderita merasa kedinginan dan demam, hal ini disebabkan oleh
merozoit dan protein asing yang dipisahkannya. Kejadian ini terjadi setiap 48
jam pada infeksi oleh P.Falciparum, 42 – 72 jam pada infeksi P.vivax / ovale
dan kira – kira 72 jam pada P.malariae. kemampuan P.falciparum untuk menembus
semua eritrosit sekaligus membuatnya begitu ganas dan berbahaya.
2. Siklus
seksual
Setelah
beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat berkembang menjadi
bentuk seksual betina dan jantan. Gametosit ini tidak berkembang lagi dan akan
mati bila tidak dihisap oleh Anopheles betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi
penggabungan (pembuahan) dari gametosit jantan dan betina menjadi zygote, yang
kemudian mempenetrasi dinding lambung dan berkembang menjadi ookista.
Dalam
waktu tiga minggu, banyak sponozoit kecil yang memasuki kelenjar ludah nyamuk.
Akhirnya, bila nyamuk (betina) ini menyengat manusia, lengkaplah siklus – hidup
parasit. Dengan ini jelasalah gametosit merupakan sumber penularan baru.
E. Diagnose
Plasmodium
dapat dideteks dan diidentifikasikan secara mikroskopis dalam preparrat darah
yang di warnai menurut Giemsa atau Wright. Cirri lainnya adanya monosit yang
berisi pigmen. Untuk malaria kronis, timbulnya berupa antibody spesifik. Kini
sedang dikembangkan tes ELISA untuk mendeteksi antigen dan metoda untuk
menemukan DNA parasit.
Pasien
baru dapat dinyatakan bebas malaria bila 2 – 3 preparat darah yang diambil tiap
hari selama 3 – 4 hari memberikan hasil negative pada tes pewarnaan.
F. Tindakan Pencegahan Umum
Berikut
ini merupakan tindakan pencegahan (preventif) sebagai berikut :
1.
Diusahakan untuk menghindari kontak
antara manusia dan vector (nyamuk Anopheles) dengan cara membasmi nyamuk lavae-nya.
2.
Menghilangkan penyebaran infeksi oleh
manusia dalam pengobatan semua jenis demam di daerah malaria dengan obat antimalaria.
3.
Penggunaan obat – obat penangkal
serangga (mosquito repellent) seperti
minyak sereh, DEET (diethyltoluamide)
dan dibutilftalat.
4.
Pada malam hari memakai baju lengan
pannjang dan menggunakan kelambu tempat tidur yang sebaiknya diimpregnir dengan
insektisida permetrin ( anjuran WHO)
yang menurut perkembangan baru dapat bertahan sampai 5 tahun.
Walaupun
telah dijlani kemoprofilaksis penyakit malaria tetap timbul, dapat disebabkan
oleh, yaitu :
a. Cara
profilaksis yang tidak tepat
b. Tidak
patuhnya minum obat (non – compliance)
c. Jenis
profilktikum yang digunakan tidak tepat.
G. Obat Malaria
Sejarah:
obat tertua untuk mengobati demam malaria adalah kulit kina dan alkaloida yang
mengandung kinin (1820). Baru pada tahun 1932 ditemukan obat yang sama
khasiatnya yaitu mepakrin, yang terutama banyak digunakan selama perang dunia
ke II sewaktu tentara sekutu tidak menerima kinin lagi di Indonesia.
Pada
tahun 1944, klorokuin
Yang
lebih ringan efek sampingnya, menggantikan mepakrin yang agak toksis, juga
lebih cepat efek kuratifnya. Pada tahun 1946 diintroduksi proguanil sebagai
obat yang tidak hanya aktif terhadap bentuk darah (trofozoit) sebagaimana ketiga
obat yang terdahulu, melainkan juga terhadap bentuk hati, khususnya bentuk EE.
Primer dari P.Falciparum. primakuin (1948) terutama berkhasiat kuat, terhadap
bentuk EE dari P.vivax/ovale.
Dengan
demikian proguanil dan primakuin sengat ampuh sebagai obat pencegah malaria.
Kemudian dipasarkan pula derivate klorokuin amodiakuin (1950), pirimetamin
(1952), metaflokuin ( 1981) dan halofantrin (1985). Pada tahun 1990 WHO telah mengeluarkan amodiakuin dari
program terapi malaria, karena dilaporkan timbulnya efek samping serius pada
penggunaan profilaksis.
Armeter
(1991) adalah suatu derivate semisisntesis dari aetemisinin, yang terdapat
dalam tumbuhan china qinghaosu. Obat tradisional ini sudah sejak tahun 1970-an
banyak digunakan dengan sukses di China Selatan dan Thailand terhadap P.Falciparum yang multiresisten.
Efeknya lebuh cepat dari kinin.
Mekanisme Kerjanya
1.
Klorokuin
Mencegah
“dimakannya” hemoglobin (zat warna merah) oleh parasit, sehingga timbul
kekurangan asam amino esensial untuk sintesa DNA-nya.
2.
Meflokuin
Diperkirakan sama mekanisme kerjanya
dengan klorokuin. Kinin dan armeter menghambat sintesa protein dengan jalan
membentuk kompleks dengan DNA parasit, disamping merintangi banyak system
enzimnya.
3.
Proguanil dan pirimethanin
Antagonis
folat yang merintangi enzim yang mengubah asam folat menjadi asam folinat,
sehingga sintesi DNA/RNA terganggu .
4.
Trimetropin
Derivate
pirimethamin yang khasiatnya lebih kuat terhadap enzim bakteri daripada enzim
plasmodium. Oleh karenanya senyawa ini tidak digunakan tidak digunakan pada
malaria, tetapi sebagai obat antibakteri yakni kontrimoksazol = trimetropin +
sulfisoksazol.
5.
Primakuin
Dapat
juga mengikat DNA dan diperkirakan dalam tubuh nyamuk dirombak menjadi
metabolit yang bersifat oksidans dan lebih aktif terhadap parasit.
Penggolongan
Berdasarkan
bertola siklus hidup dari titik kerja pada siklus hidup parasit serta tujuan
terapi yang dikehendaki dan terdiri dari 4 kelompok, yaitu :
a. Obat
pencegah = profilaktika kausal
Proguanil
dan pirimethamin. Berkhasiat terhadap bentuk EE.Primer dalam hati dari
P.Falciparum dan P.vivax sedangkan P.malariae hanya peka untuk sebagian.
Primakuin juga aktif terhadap bentuk ini tetapi terlalu toksis untuk digunakan
dalam jangka waktu lama sebagai obat pencegah.
b. Obat
penyembuh/pencegah demam/ kuratif
Berkhasiat
terhadap siklus darah, mematikan trofozoit serta schizont dan dengan demikian
menghentikan atau mencegah gejala klinis. Kinin bekerja lambat, sedangkan
armeter dan klorokuin bekerja cepat dan kuat.
c. Obat
pencegah kambuh = penyembuh radikal
Obat
ini mematikan bentuk EE sekunder dari malaria tertian dan kwartana. Primakuin
adalah satu – satunya obat yang sangat efektif untuk terapi jangka singkat.
Terapi untuk rakyat setempat tidak cocok, karena kemungkinan besar akan reinfeksi.
d. Obat
gametosid = pencegah tersebarnya penyakit
Mematikan
gametosit dalam darah penderita yang mengakibatkan penularan dari malaria ke
nyamuk. Maka obat – obat ini menghindarkan disebarluaskannya parasit setelah
semua bentuk lainnya dimusnahkan.
H. Pengobatan
Pada
umunya penderita diberi analgetika dan antipiretika, seperti acetosal dan
paracetamol. Untuk menanggulangi dehidrasi dan shock dapat diberikan cariran
dalam bentuk infus atau per oral (ORS).
Terapi
Terapi
tergantung pada keadaan, yakni pada serangan akut dari berbagi bentuk malaria,
sebagai berikut :
a.
Malaria tersiana
Biasanya
ditanggulangi dengan klorokuin yang jalannya cepat selama 2-4 hari. P.vivax
resisten terhadap klorokuin perlu ditanggani dengan meflokuin. Terapi selalu
disusul oleh primakuin.
b.
Malaria tropika tak parah
Ditangani
dengan klorokuin, bila infeksi terjadi di Amerika Tengah, Afrika Utara, dan
Asia Kecil. Di Negara lain dimana terdapat multiresistensi untuk klorokuin
perlu diberikan obat lain yaitu kinin + doksisiklin atau meflokuin. Kemungkinan lain adalah halofantrin (hanya
bila ECG Normal).
c.
Malaria tropika parah
Harus
dimulai dengan kinin parenteral, kemudian disusul dengan pemberian oral. Pada
malaria tropika terapi menghasilkan penyembuhan tuntas karena tidak terdapat
stadium EE maka terapi tidak perlu disusul dengan primakuin.
Kehamilan
dan Laktasi
Klorokuin
dan proguanil boleh digunakan klorokuin merupakan pilihan pertama terhadap
serangan dan profilaksis, juga selama laktasi. Pada malaria tropika yang
resisten terhadap klorokuin dapat digunakan kinin.
DAFTAR PUSTAKA
Hoan
Tan dan Kirana Rahardja.2008.Obat – obat Penting. Jakarta, PT. Elex Media
Komputindo
(ZM)